MENJADI KAYA DENGAN SHOLAT DHUHA

Istiqomah Sholat Dhuha, jaminan kaya harta penuh barokah
Istiqomah untuk terus melaksanakan sholat dhuha, mungkin sangat sulit untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apalagi hukumnya sunah serta dikerjakan dalam jam-jam sibuk kerja. Tapi inilah tantangan terberat dari sholat dhuha. Sholat dhuha dalam hal ini harus diyakini sepenuh hati. Masalah kapan datangnya rizki itu murni Allah yang akan mengaturnya, hanya saja kita dianjurkan untuk beristiqomah dalam menjalankannya (sholat dhuha) dan kita diharuskan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk meraih keinginannya. Tetapi jika sholat dhuha dan usaha maksimal sudah dilakukan tapi belum juga rejeki itu datang maka kita harus mengevaluasi gimana sholat dhuha kita dan juga gimana usaha kita apakah sudah maksimal terus apakah ada ketimpangan diantara keduanya. Jadi yang perlu dilakukan adalah berusaha untuk terus mengistiqomahkan sholat dhuha kita dan terus berusaha pantang menyerah. Karena dengan keistiqomahan kita untuk sholat dhuha akan mempengaruhi kenyakinan seseorang sehingga orang tersebut tidak akan ragu dan khawatir dengan lambatnya rejeki yang dialaminya. Sholat dhuha bukan hanya menjamin datangnya rejeki, tetapi juga memberi kebarokahan dalam setiap rejeki yang diterimanya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :

Dan bahwasanya, jika mereka tetap beristiqomah berjalan lurus diatas jalan ini (agama islam) benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rejeki yang banyak)” (QS. Al Jiin : 16)

Air dalam ayat diatas maksudnya adalah lambang kemakmuran, rejeki atau kenikmatan dan sejenisnya. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya dan ketenangan jiwanya.

Sabar, bukan berarti menyerah
Sabar mungkin merupakan kata yang sering kita dengar dan kita ucapkan ketika kita ditimpa atau mengalami sebuah musibah. Dan kebanyakan orang memaknai sabar ini dengan hanya meratapi dan merenungi serta berusaha menerima apa yang baru saja dialami. Misalnya orang di landa kesulitan ekonomi, lantas orang itu bersikap sabar dengan merenungi dan berfikir mungkin inilah jalan hidupku, jadi aku harus menerima apa yang ada dalam dariku saat ini. Jadi seolah-olah orang-orang tersebut sudah menyerah dengan takdir dan nasibnya. Melihat permisalan diatas muncul pertanyaan, apakah sikap sabar yang seperti ini, itu benar? Jawabannya tentu tidak. Allah berfirman dalam Al Qur’an

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (QS. Ali Imron : 200)

Dari ayat diatas, kita diperintahkan untuk bersikap sabar dan tetap siaga, supaya kita menjadi orang yang beruntung dalam menghadapi serangan musuh. Serangan musuh yang dimaksud disini adalah kemiskinan. Jadi jika dihubungkan dengan penjelasan ayat diatas, dalam menghadapi kemiskinan tersebut kita harus senantiasa bersikap sabar dan siaga. Yang mana sikap sabar ini tidak berarti berhenti, pasif atau stagnan tetapi kita diharuskan untuk bersikap sabar menerima kenyataan yang terjadi dan berusaha untuk berfikir maju dengan menggunakan akal fikiran kita untuk memperbaiki keadaan yang ada. Jadi sabar disini dimaksudkan sikap yang pelan, terencana dan pasti untuk memperbaiki keadaan yang dialaminya. Dan tentunya harus diiringi dengan memohon pertolongan pada Allah dengan cara Sholat Dhuha dan tentunya juga tidak mengabaikan sholat wajib yang lain. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an
Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al Baqoroh : 45)

Memutar kekayaan
Karakter utama yang dibangun dari pembiasaan sholat dhuha adalah mampu menjadi “pemutar kekayaan” sekaligus sebagai penjaga harta yang paling mulia. Karena ketika kaya atau hanya merasa hanya memiliki harta sedikit saja, selalu muncul keinginan untuk menyedekahkan harta kita tersebut. Sehingga inilah indikasi harta yang barokah yang selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhannya, juga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sholat Dhuha “Jalan Pintas” menjadi kaya
Menurut pemahaman kami, yang dimaksudkan kaya dalam point ini bukan berarti mempunyai banyak harta kekayaan tetapi kebarokahan dari harta yang dimiliki. Dengan kata lain, dengan membiasakan sholat dhuha kita tidak lantas langsung jadi kaya mendadak melainkan dengan jumlah penghasilan kita yang sekarang, bisa untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan dan mungkin bisa menyisihkan harta kekayaan kita untuk sekedar berbagi dengan orang lain yang membutuhkannya. Kami rasa mungkin seperti itulah maksud kebarokahan harta benda yang sejati. Karena ibarat air semakin menggenang dan tidak mengalir maka akan menimbulkan bau bahkan bisa menjadi sumber penyakit. Begitu juga dengan harta semakin banyak harta terkumpulkan dan tidak berupaya untuk berbagi dengan orang lain, maka akan menimbulkan ketamakan dan gila harta bagi yang memilikinya dan efeknya takut akan kehilangan harta kekayaan tersebut.

Sholat Dhuha-lah seolah-olah engkau akan hidup selamanya
Rosulullah bersabda “Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok pagi”. Dari hadist ini mengandung arti bahwa dalam urusan dunia berfikirlah untuk hidup selama-lamanya karena dengan itu akan membuat kita lebih bersemangat dalam bekerja. Tetapi untuk urusan akhirat berfikirlah bahwa engkau akan mati esok hari karena dengan hal ini maka kita akan bisa lebih khusyuk dalam beribadah kepada-Nya. Tapi sekarang pertanyaannya adalah “Sholat dhuha itu untuk kepentingan dunia atau akhirat?” berdasarkan buku ini, sholat dhuha itu posisinya berada diantara dunia dan akhirat. Dan selanjutnya kami memahaminya didasarkan pada firman Allah dalam Al Qur’an yang artinya sebagai berikut :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al Qashas : 77)

Maksud ayat diatas adalah bahwa walaupun kehidupan akhirat jauh lebih baik dari kehidupan dunia, tetapi Allah mengingatkan kita supaya kita tidak lupa akan kehidupan di dunia. Mengapa demikian karena kebahagiaan kehidupan akhirat tidak akan tercapai secara mulus jika kita gagal dalam menempuh kehidupan di dunia. Bisa kami tambahkan, jika hal ini kita logika, orang yang mempunyai harta dan hartanya itu barokah maka akan mudah ia memanfaatkan hartanya dalam rangka beribadah kepada-Nya dan tentunya hal ini akan dicatat sebagai suatu amal yang akan menjadi bekal untuk kehidupan diakhirat nanti. Dan dengan cara apa kita bisa mengumpulkan harta kekayaan tersebut? Yaitu salah satunya dengan cara sholat dhuha.

Wallahu a‘lam. Semoga Allah mengampuni segala khilaf dan salah kami dalam penulisan resume ini. Semoga apa yang kami tulis ini bisa menjadi pengingat akan inti dari buku ini dan sebagai motivasi kami untuk mengamalkannya. Amin.

Ditulis berdasarkan buku “MENJADI KAYA DENGAN SHOLAT DHUHA” Penulis SUYADI penerbit Mitra Pustaka Jogjakarta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: